MUNA BARAT, KABARTIME.COM–Maraknya musibah kebakaran yang melanda permukiman warga di Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara, sepanjang tahun 2026 membawa dampak finansial yang amat berat bagi warga terdampak. Hingga pertengahan Agustus 2026, tercatat sembilan insiden kebakaran meratakan delapan unit rumah serta satu pabrik penyulingan minyak nilam, dengan total kerugian material diperkirakan menembus angka lebih dari Rp 1,41 miliar.
Meski seluruh bangunan beserta aset di dalamnya hangus dilahap si jago merah, otoritas setempat memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam rentetan musibah tersebut.
Puncak dari gelombang kebakaran ini terjadi pada Agustus 2026, di mana lima unit rumah warga musnah hanya dalam kurun waktu dua pekan dengan taksiran kerugian mencapai ratusan juta rupiah per insiden.
Pada 6 Agustus 2026,sekitar pukul 15:45 Wita kobaran api Menghanguskan rumah kayu dan kios sembako milik Dion dan Mulyadi di Desa Waulai, Kecamatan Barangka. Saat kejadian, bangunan dalam keadaan kosong karena Dion tengah keluar untuk ikut pertandingan bola, sementara Mulyadi mengantre BBM di SPBU.
Adapun sejumlah barang yang ikut terbakar, yakni 5 buah lemari,1 tempat tidur; 1 unit televisi, 1 kipas angin, 1 handphone atau gawai,uang tunai Rp1 juta; dokumen penting berupa 3 lembar Ijazah SD, SMP, SMA dan selembar sertifikat tanah, serta seluruh parabot dapur, Kios sembako.
Kerugian atas insiden tersebut ditaksir sebesar Rp 150 juta, yang meliputi tabungan tunai, dokumen penting, barang elektronik, hingga seluruh dagangan kios.
Kemudian pada tanggal 9 Agustus 2026, sekitar pukul 14.00 WITA tepatnya di Desa Lombu Jaya, Kecamatan Sawerigadi,Mubar, Api kembali melalap tiga unit bangunan milik Farlin, Sarmin, dan Wa Hanipi hangus tanpa menyisakan barang berharga. Api diduga bersumber dari anak-anak yang bermain api.Kerugian material ditaksir mencapai Rp 350 juta.
Selanjutnya pada Jumat sore, 14 Agustus 2026, sekitar pukul 16.00 WITA, Kobaran api menghanguskan rumah milik La Pantasi ayah kandung pemain Tim Nasional sepak bola Indonesia, Saddil Ramdani di Desa Barangka, Kecamatan Barangka, Mubar. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 150 juta, mencakup bangunan semipermanen seluas 114,5 meter persegi, dokumen penting (ijazah dan sertifikat tanah), uang tunai Rp 2 juta, serta seluruh perabot rumah tangga.
Sebelum eskalasi pada Agustus, rentetan kebakaran telah melanda beberapa lokasi di wilayah Mubar sejak awal tahun 2026 dengan akumulasi kerugian yang juga terbilang besar.
Pada 29 Januari 2026, Desa Bakeramba,Kecamatan Kusambi, Api menghanguskan rumah warga milik La Ate memicu kerugian hingga Rp 350 juta, mencakup bangunan 10×12 meter, perabot, dan uang tunai Rp 100 juta.
Pada 17 Maret 2026 tepatnya di Desa Waturempe, Kecamatam Tikep, insiden kebakaran menghanguskan Rumah semipermanen milik Rajab (44). Akibat kelalaian api tungku dapur. Kerugian ditaksir mencapai Rp 250 juta.
Pada 13 April 2026 di esa Suka Damai, Kecamatan Tiworo Tengah, Api kembali menghanguskan Kios semipermanen milik Gede Ariawan (48). Insiden tersebut terjadi setelah rumah ditinggal mengantar anak sekolah. Kerugian mencapai sekitar Rp 70 juta.
Kemudian pada tanggal 4 Mei 2026 di esa Latompe, Kecamatan Lawa, Kebakaran melanda pabrik penyulingan minyak nilam milik Jumliati dan menghanguskan rumah penyulingan dan 33 karung nilam gelondongan dengan kerugian Rp 70 juta.
Mayoritas pemicu kebakaran disinyalir berasal dari kelalaian aktivitas domestik hingga insiden tak terduga. Namun, besarnya total kerugian serta sulitnya pemadaman dipicu oleh keterbatasan armada tanggap darurat di wilayah tersebut.
Menanggapi besarnya dampak kerugian yang dialami warga, Pemerintah Daerah (Pemda) Mubar memberikan bantuan perbaikan rumah melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) serta bantuan modal usaha pascabencana.
Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, juga memberikan dana pribadi untuk meringankan beban para korban.Namun, Darwin mengakui bahwa penanganan kebakaran di daerahnya belum optimal akibat minimnya sarana pendukung. Saat ini, Pemkab Muna Barat hanya memiliki satu unit mobil pemadam kebakaran untuk melayani seluruh wilayah kabupaten.
“Damkar kita ini baru satu, memang kita sangat keterbatasan. Sehingga pada saat ada kebakaran antisipasinya belum maksimal karena hanya satu unit,” ujar Darwin.
Darwin menambahkan, tangki daya tampung air mobil damkar yang ada tergolong kecil sehingga petugas harus berulang kali bolak-balik menyuplai air saat pemadaman. Untuk mengatasi masalah ini, pihak Pemkab sedang mengupayakan pengadaan armada baru ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), serta siap mengalokasikan anggaran mandiri melalui APBD tahun depan sebagai agenda prioritas.(red).
















