Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

SPKS Dorong Hilirisasi Sawit Lewat Kampus, Mahasiswa Disiapkan Jadi Motor UMKM Berbasis Komoditas Perkebunan

229
×

SPKS Dorong Hilirisasi Sawit Lewat Kampus, Mahasiswa Disiapkan Jadi Motor UMKM Berbasis Komoditas Perkebunan

Sebarkan artikel ini
Ketgam : Workshop UMKM Sawit dengan mengusung tema “Menumbuhkan Ekosistem Bisnis Mahasiswa dari Hilirisasi Turunan Kelapa Sawit” di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Kamis (2/7/2026).(foto istimewah).

KENDARI,KABARTIME.COM– Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS) menegaskan komitmennya dalam memperkuat transformasi ekonomi petani melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis hilirisasi kelapa sawit. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop UMKM Sawit dengan mengusung tema “Menumbuhkan Ekosistem Bisnis Mahasiswa dari Hilirisasi Turunan Kelapa Sawit” di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Kamis (2/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan nasional SPKS untuk memperluas edukasi mengenai manfaat komoditas perkebunan kepada mahasiswa dan masyarakat sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu mengembangkan nilai tambah dari sektor perkebunan.

Program tersebut sejalan dengan misi SPKS dalam memperkuat kapasitas petani, koperasi, dan pengembangan UMKM berbasis produk turunan sawit.

Ketua Umum SPKS Indonesia, Sabarudin, SE., ME., mengatakan bahwa selama ini masyarakat lebih banyak mengenal kelapa sawit sebagai penghasil minyak goreng atau komoditas ekspor. Padahal kata dia, sawit merupakan salah satu komoditas strategis yang mampu menghasilkan ratusan produk turunan dengan nilai ekonomi tinggi serta membuka peluang usaha di sektor pangan, kosmetik, energi terbarukan, hingga industri kreatif.

“Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap komoditas perkebunan. Sawit bukan hanya berbicara tentang kebun dan panen, tetapi tentang inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan masa depan ekonomi masyarakat. Petani harus menjadi pelaku utama dalam rantai nilai industri sawit, bukan hanya sebagai pemasok bahan baku,” ujar Sabarudin.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan perkebunan saat ini adalah membangun pemahaman generasi muda mengenai manfaat strategis komoditas perkebunan. Karena itu, SPKS memilih perguruan tinggi sebagai mitra utama dalam menghadirkan ruang edukasi yang menghubungkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan praktik kewirausahaan.

Melalui program Sawit Goes to Campus, SPKS ingin memperkenalkan kepada mahasiswa bahwa komoditas perkebunan bukan sekadar sektor primer, melainkan ruang yang melahirkan inovasi bisnis, pengembangan teknologi, ekonomi kreatif, dan industri hilir yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mereka memiliki kreativitas, kemampuan riset, dan penguasaan teknologi digital. Jika potensi itu dipadukan dengan kekayaan sumber daya perkebunan Indonesia, maka akan lahir wirausaha muda yang mampu menciptakan produk-produk inovatif sekaligus memperkuat ekonomi petani,” katanya.

Tema kegiatan “Edukasi Manfaat Komoditas Perkebunan untuk Mahasiswa dan Masyarakat Umum” menjadi landasan utama penyelenggaraan workshop. SPKS menilai bahwa edukasi publik mengenai komoditas perkebunan harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai kontribusi sektor perkebunan terhadap pembangunan nasional.

Selama ini, komoditas perkebunan sering dipandang hanya dari aspek produksi. Padahal, setiap komoditas memiliki rantai nilai yang panjang, mulai dari budidaya, pengolahan, logistik, perdagangan, penelitian, hingga pengembangan UMKM. Melalui pendekatan edukatif, SPKS ingin menunjukkan bahwa sektor perkebunan merupakan ruang lahirnya inovasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat koperasi, serta menjadi penggerak ekonomi daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama BPDP dalam mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia.

“Kami tidak hanya membangun kebun sawit yang produktif, tetapi juga membangun manusianya. Mahasiswa dan generasi muda harus dipersiapkan menjadi inovator yang mampu mengembangkan produk turunan sawit dengan memanfaatkan teknologi, kreativitas, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tenggara , Ihlas Landu, mengatakan bahwa Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri hilir berbasis kelapa sawit. Menurutnya, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibanding hanya mengandalkan produksi tandan buah segar.

“Perkebunan sawit telah memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membangun industri hilir yang melibatkan petani, koperasi, UMKM, dan perguruan tinggi sehingga manfaat ekonomi semakin besar dirasakan masyarakat,” katanya.

Sementara itu Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara, La Oge, S.P., M.P., menilai kolaborasi dengan SPKS merupakan langkah penting dalam mendekatkan hasil riset kampus dengan kebutuhan masyarakat.

“Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk mengembangkan produk turunan sawit, meningkatkan nilai tambah komoditas, dan menciptakan peluang usaha baru,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Bagian usaha kecil Laode Pali Awaludin Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Tenggara, hilirisasi sawit akan berhasil apabila didukung oleh UMKM yang kuat, akses pembiayaan yang memadai, serta kemampuan pelaku usaha dalam membaca peluang pasar.

“Generasi muda harus berani melihat komoditas perkebunan sebagai peluang bisnis. Pemerintah telah membuka ruang melalui berbagai program pembiayaan dan pendampingan. Tinggal bagaimana inovasi dan keberanian berwirausaha terus ditumbuhkan,” katanya.

Adapun Kepala bidang Balai POM di Kendari, Ibu syahriani zain, S.Farm.,Apt mengingatkan bahwa produk hilirisasi sawit harus memenuhi aspek keamanan pangan, legalitas, sertifikasi halal, serta memiliki kemasan dan strategi pemasaran yang baik agar mampu bersaing di pasar.

Workshop tersebut menjadi implementasi dari tujuan SPKS dalam membangun ekosistem bisnis mahasiswa berbasis sawit melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha. Selain menghadirkan diskusi mengenai peluang hilirisasi, kegiatan juga dilanjutkan dengan praktik pembuatan produk turunan sawit sebagai bentuk pembelajaran langsung bagi peserta.

Sebagai tindak lanjut, SPKS akan memperluas program Sawit Goes to Campus ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut akan difokuskan pada edukasi manfaat komoditas perkebunan, penguatan koperasi petani, pengembangan inkubasi bisnis mahasiswa, riset terapan, hingga pendampingan UMKM berbasis produk turunan sawit.

Bagi SPKS, membangun masa depan sawit Indonesia bukan hanya tentang meningkatkan produktivitas kebun, tetapi juga menciptakan generasi muda yang mampu mengubah kekayaan komoditas perkebunan menjadi inovasi, kewirausahaan, dan sumber kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.(rilis).

Example 728x250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *