KENDARI,KABARTIME.COM– Koordinator Pusat Forum Peduli Nusantara, Al Munardin, memberikan tanggapan keras terhadap berbagai isu dan wacana yang berkembang di tengah masyarakat maupun media sosial terkait keberadaan Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen (Purn) Andi Sumangerukka.
Isu yang menyebut bahwa Gubernur Andi Sumangerukka bukan putra daerah atau hanyalah pendatang, dinilai sebagai tindakan yang tidak menunjukkan kedewasaan berpolitik.
Al Munardin menyebutkan bahwa narasi yang dimainkan oleh elit politik maupun mantan pejabat tersebut mencerminkan kurangnya pemahaman dalam mendorong komunikasi sosial yang baik.
Menurut Al Munardin, menciptakan tatanan sosial yang harmonis sangat penting mengingat Sulawesi Tenggara yang terdiri dari 17 Kabupaten/Kota memiliki penduduk dari berbagai etnis, sehingga layak disebut sebagai miniatur nusantara.
“Hal ini menjadi penting untuk diingatkan. Elit politik seharusnya membangun komunikasi yang baik di tengah masyarakat yang heterogen, bukan sebaliknya,” tegas pria yang akrab disapa Power ini.
Mantan Ketua KPU Muna dan Muna Barat ini memaparkan fakta-fakta empiris bahwa keterlibatan etnis di luar suku lokal asli telah lama menjadi bagian dari dinamika politik di Sultra.
Misalnya pada Pilwali Kota Kendari, Sejak zaman Mansyur Masie Abunawas berpasangan dengan Andi Mussakir Mustafa, hingga era Siska Karina Imran berpasangan dengan Zulkarnain, pemenang selalu melibatkan keterwakilan masyarakat daratan dan etnis Bugis.
Kemudian pada Kontestasi Pilgub tahun 2012, yang di ikuti oleh pasangan Buhari Matta-Mansyur Masie Abunawas, Nur Alam-Saleh Lasata, dan Ridwan Bae-Khairul Saleh.
Dan pada Pilgub tahun 2018, Menampilkan pasangan Ali Mazi-Lukman Abunawas, Rusda Mahmud-Sjafei Kahar, serta Asrun-Hugua.
Al Munardin menekankan bahwa poin pentingnya adalah etnis Bugis sudah lama bertarung untuk menjadi orang nomor satu di Sultra, meskipun pada periode sebelumnya belum berhasil memenangkan kursi Gubernur.
Mantan anggota KPU Sulawesi Tenggara ini juga mengulas peta persaingan Pilgub 2024 yang diikuti oleh Ruksamin – Sjafei Kahar, Andi Sumangerukka – Hugua (Pemenang) Lukman Abunawas – La Ode Ida, Tina Nur Alam – Iksan Taufik Ridwan.
Ia menilai kemenangan pasangan Andi Sumangerukka dan Hugua membuktikan bahwa pertarungan kepemimpinan di Sultra selalu diwakili oleh etnis-etnis besar. Namun, ia menyayangkan masih adanya pihak yang belum menerima hasil tersebut.
“Yang aneh justru hasil Pilgub saat ini, masih ada juga sebagian elit maupun masyarakat yang belum move on,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Al Munardin meminta agar para elit politik dan mantan pejabat berhenti melontarkan pernyataan yang tidak populis karena dapat mengganggu stabilitas daerah.
“Diharapkan kepada elit-elit politik ataupun mantan pejabat di daerah ini untuk istirahat membuat isu-isu atau pernyataan yang tidak populis karena dapat berimplikasi pada penciptaan suasana yang tidak kondusif atau terciptanya instabilitas ditengah masyarakat,” tuturnya.
Ia juga berpesan kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara agar tetap tenang dan tidak mudah terhasut oleh isu-isu murahan yang dapat memecah belah persatuan.
“Diingatkan kepada masyarakat agar tidak gampang terprovokasi dengan isu-isu murahan yang dimainkan oleh elit yang dapat menimbulkan perpecahan dan terganggunya situasi kehidupan sosial kemasyarakatan,” pungkasnya.(red/kabartime.com).
















