MUNA,KABARTIME.COM – Kualitas material batu lokal asal Kabupaten Muna untuk proyek pembangunan jalan kembali mencuat, terutama di tengah anggapan berbagai pihak yang menilai material ini belum familiar di kalangan kontraktor.
Namun, data teknis dan pengakuan resmi dari Balai Jalan Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menegaskan keunggulan batu Muna, terutama untuk lapisan pondasi.
Kontraktor lokal asal Muna, Gomberto, dengan tegas membantah keraguan tersebut. Ia menyatakan bahwa batu Muna memiliki kualitas tinggi, terbukti lolos spesifikasi, dan mendesak agar pemanfaatannya tidak dipolitisasi.
“Siapa yang mengatakan material kita haram dipakai untuk pembangunan jalan? Kita di Muna ini punya batu yang memiliki kualitas dan sudah terbukti memenuhi spesifikasi melalui uji laboratorium,” ujar Gomberto.
Gomberto menyebut material lokal telah digunakan berulang kali dalam proyek infrastruktur besar, termasuk pembangunan jalan di Watoputi dan proyek Impres Jalan Daerah (IJD) tahun 2023 yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.
Ia memaparkan kunci standar teknis material adalah nilai Abrasi, yaitu faktor kehilangan akibat gesekan.
“Dalam pemilihan material itu yang penting adalah Abrasi. Berdasarkan hasil uji material, tingkat abrasi batu kita di Muna ini hanya 31 persen, sementara standar abrasi material yang layak digunakan adalah 40 persen,” paparnya.

Hasil abrasi 31 persen ini, menurut Gomberto, setara dengan batu dari Moramo. “Standar abrasi batu kita sama dengan batu dari Moramo, yakni 31 persen. Jadi jangan dilihat warnanya. Yang penting itu kekerasannya terpenuhi,” tegasnya.
Kualitas batu lokal Muna, khususnya untuk material Lapisan Pondasi Bawah (LPB) atau Base Course, juga dibenarkan oleh Balai Jalan Nasional Provinsi Sultra. Material ini sudah teruji dan digunakan untuk pembangunan jalan-jalan nasional, termasuk Program IJD di Kabupaten Muna Barat.
La Sahiru, PPK Jalan Balai Nasional Provinsi Sultra, menyampaikan bahwa penentuan sumber material didasarkan pada hasil pengujian laboratorium yang sah dan bersertifikat, bukan pada asumsi.
Ia mencontohkan, PT Bangun Ekonomi Saurea, salah satu perusahaan yang menggunakan material LPB dari Pulau Muna, telah mengajukan uji materi di dua laboratorium resmi, yakni UPTD Provinsi dan Balai.
“Dan hasil uji lab menunjukkan material milik PT Bangun Ekonomi Saurea ini masuk spesifikasi. Bahkan nilainya sekitar 31 persen, dan memenuhi batas ketentuan teknis. Jadi, kita mempertimbangkan itu berdasarkan kualitas, bukan warna batu atau bentuknya,” tegas La Sahiru.
Gomberto juga mengkritik kebijakan yang masih mendatangkan material luar, padahal kekayaan alam lokal telah teruji.
“Kita ini lahir di atas batu, tapi kita punya APBD digunakan untuk beli batu dari luar. Sudah saatnya kita manfaatkan kekayaan alam kita,” tutupnya.
Meskipun demikian, Balai Jalan Nasional memberi catatan terkait lapisan perkerasan aspal. La Sahiru memastikan bahwa untuk lapisan atas atau penutup (aspal), material tetap harus didatangkan dari luar daerah.
“Hanya kita sarankan untuk lapisan atas (aspal) memang tidak boleh menggunakan batu lokal. Untuk lapisan atas itu harus tetap didatangkan dari Moramo. Itu sudah disepakati. Batu 0,5 dan material halusnya sudah lama masuk satu tongkang,” ungkapnya, memastikan prioritas penggunaan batu lokal hanya difokuskan untuk lapisan pondasi yang telah teruji.(red/kabartime.com).













