Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaPendidikan

Mengenang Memori Kolektif Penuh Perjuangan, Alumni dan Kader Rayakan I Dekade GMNI Kendari

69
×

Mengenang Memori Kolektif Penuh Perjuangan, Alumni dan Kader Rayakan I Dekade GMNI Kendari

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Hajatan Temu Marhaenis, 1 Dekade GMNI Kendari dengan tema : “Arah Ideologi, Konsolidasi Kader, dan Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa” Hajatan tersebut di salah satu warkop di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (8/3/2026).(foto Istimewah).

KENDARI,KABARTIME.COM – GMNI Kendari menggelar hajatan besar. Sebuah momentum ideologis, meneguhkan kembali khitah perjuangan GMNI Kendari tanpa tercerabut dari kultur ideologisnya dan geografisnya.

Hajatan Temu Marhaenis, 1 Dekade GMNI Kendari dengan tema : “Arah Ideologi, Konsolidasi Kader, dan Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa”

Hajatan tersebut di gelar tanggal 8 Maret 2026, di salah satu warkop di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menjadi sebuah moment spesial, strategis, dan istimewa bagi kader yang juga meneguhkan kembali semangat historis tentang akar terbentuknya GMNI Kendari.

Hajatan tersebut dihadiri oleh ratusan anggota dan kader GMNI Kendari, senior lintas generasi serta secara langsung di buka oleh pengurus DPP GMNI Bidang Koperasi Musrivind yang juga mantan Ketua DPD GMNI Sulawesi Tenggara.

Dalam sambutannya, Pengurus DPP GMNI Bidang Koperasi, Musrivind kembali mengingatkan tentang memori kolektif perjalanan GMNI dari masa ke masa.

Ia membeberkan, bahwa kita sedang menapaki jalan panjang perjuangan. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan, sebab ada tugas dan tanggung jawab moral, ideologi, organisasi, dan sejarah yang kita pikul.

Ia berbicara tegas dan apa adanya, sebuah dorongan untuk menegaskan kembali arah serta khitah perjuangan. meneguhkan arah gerakan dan gagasan tentang prospek di masa depan GMNI.

“GMNI Kendari tak boleh hanya menjadi ruang diskusi yang hampa tanpa tindakan, tapi harus kembali pada napas perjuangan kerakyatan yang menjadi jantung GMNI sejak kelahirannya. Ini adalah momentum strategis, istimewa, spesial dan sangat ideologis untuk kembali kita menata arah gerak perjuangan kita,” Tegasnya.

Proses ideologisasi, doktrin perjuangan, penguatan kepemimpinan yang progresif dan tetap kritis terhadap situasi menjadi refleksi yang juga catatan kritis untuk tetap bergerak.

Sementara, Ketua DPC GMNI Kendari pertama periode 2015-2018 yang juga Eks pengurus DPP Bidang SDA dan Lingkungan Hidup, Zulzaman menegaskan forum ini dirancang bukan sebagai acara seremonial, melainkan ruang tukar gagasan. Momentum ini tidak boleh dianggap sekadar seremonial, penggugur tanggung jawab yang terlewat begitu saja, tetapi harus benar-benar terpatri dalam jiwa setiap insan Marhaenis.

Ia menyampaikan, sejak terbentuknya kembali DPC GMNI Kendari di tahun 2015 banyak pelaku sejarah berjuang tanpa pamrih, penuh konsistensi, dedikasi dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang juga hadir atas rasa cinta. Marhaenis Kendari dalam lintasan generasi telah menorehkan fondasi kokoh yang juga tinta emas, bukan hanya untuk di kenang ataupun menjadi mitos, tetapi mesti menjadi inspirasi dan cahaya untuk generasi baru yang terap tegak lurus dengan prinsip perjuangan Marhaenisme.

Ia mengenang, bahwa di masa itu penuh dengan suka duka, menciptakan anggota dan kader untuk terus menjadi penopang tumbuh dan berkembangnya GMNI Kendari.

“GMNI Kendari telah melewati pasang surut, ada dinamika, gejolak, suka duka, pilihan sulit tapi kita tetap tegak lurus dan menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan organisasi. Suara-suara telah diteriakkan dan panji merah telah dikibarkan. Harapan melambung tinggi, berkali-kali persatuan di jahit dengan penuh lirih, kata demi kata ini adalah ungkapan hati yang penuh harap tentang kebaikan GMNI ke depan,” Tegasnya.

Harapannya, kerja dan giat-giat organisasi terus dilakukan secara berkesinambungan untuk menjaga nafas perjuangan serta totalitas kader.

Marhaenis harus terus berada di simpang kiri jalan, berteriak diatas podium dengan lantang, bersuara di forum dan terus menghiasi percakapan publik dengan gagasan, ide dan harapan tentang nasib baik rakyat kecil.

Tak hanya itu, Eks Ketua DPC GMNI Kendari 2018-2020 Bung Abdul Wahab juga turut mengenang masa-masa sulit, tapi di sanalah kita di ajarkan tentang kesederhanaan, arti persaudaraan sesama kawan seperjuangan.

Di Kota Kendari terlihat barisan kader yang berjuang di jalanan tanpa legitimasi formal, namun bergerak melalui semangat keikhlasan untuk mengabdi kepada bangsa ini, membentuk jati diri kepemimpinan, mengasah sikap kritis dan respon kebijakan pemerintah pada pemerintahan.

Forum ideologis harus terus menjadi kawah candradimuka membentuk karakter pemimpin bangsa, untuk mengisi ruang pengadilan di berbagai sektor strategis.

Karena ia percaya setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Begitupun juga dengan generasi GMNI saat ini harus berupaya memaksimalkan segala potensi sumber daya yang ada.

Sementara, Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025, Rasmin Jaya percaya bahwa setiap kader pasti merindukan kejayaan dan kemenangan. Suatu masa di mana semua merasa bisa berdaya, tapi itu adalah proses yang semuanya sedang menuju di sana sebab tak ada yang instan. Semuanya harus di perjuangkan dan di usahakan dengan baik.

GMNI tetap menjadi ruang pembentukan gagasan, ide, dan pemikiran tajam untuk masa depan yang lebih baik. Sejak awal, GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa.

Ia adalah ruang ideologis yang lahir untuk berjuang dan menegakkan nasionalisme yang berjiwa sosial sebagaimana ajaran Bung Karno. Ideologi jangan hanya berhenti sebagai slogan, tetapi tindakan kongkret yang berdampak.

“Marhaenisme harus tetap membumi sebagai wujud nyata perubahan melalui refleksi jujur tentang keberpihakan kepada kaum kecil, serta pergulatan intelektual yang menyalakan kesadaran akan akar kultural kita,” Tegasnya.

Sejarah gerakan mahasiswa mengingatkan bahwa ketika organisasi kehilangan kohesi ideologis, ia akan kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan.

Karena ketika idealisme digantikan oleh kalkulasi kekuasaan, organisasi kehilangan jiwanya. Kita tidak menginginkan GMNI diombang-ambingkan oleh kepentingan kekuasaan yang menindas. Ini adalah kritik dan otokritik yang mesti melahirkan sintesis baru dalam akumulasi segala dinamika yang ada.

Setiap dari kita harus terus menjalankan amanat ideologi, tanggung jawab organisasi, tuntutan sejarah dan moralitas. Tapi ia bergerak seperti gayun bersambut yang saling menghubungkan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Hal ini dimulai dari kesadaran moral bahwa GMNI bukan milik segelintir pihak melainkan milik seluruh kader yang masih percaya bahwa api Nasionalisme masih menjadi benang yang bisa merajut perbedaan dan Marhaenisme tetap menjadi asas perjuangan yang akan tetap relevant mengikuti arus perkembangan zaman.

Tak hanya itu, GMNI tetap menjadi lokomotif, pelopor dan kawacandradimuka untuk setiap insan Marhaenis pejuang pemikir- pemikir perjuang. Kita sedang merintis di atas jalan terjal perjuangan untuk mengumpulkan secercah percikan api agar menjadi kekuatan dan cahaya yang selalu mengiringi perjalanan kita.

“Tentang harapan yang kita perjuangkan, mungkin tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi semoga itu menjadi pelajaran dan pengalaman dari setiap kejadian itu sendiri,” Tegasnya.

Sementara, Ketua DPC GMNI Kendari, Bung Awaluddin menegaskan GMNI membutuhkan pemurnian nilai. Kita perlu menatap ulang akar Marhaenisme bukan sekadar sebagai doktrin politik, melainkan sebagai ajaran kemandirian, kebersamaan, dan pengabdian pada rakyat.

GMNI adalah nama yang penuh makna dan istimewa di relung hati para kadernya. Ia hidup sebagai lambang, seperti bendera yang masih berkibar sebagai detak jantung perjuangan.

“Seperti pekikan tangan kiri yang selalu menjadi simbol perlawanan dan seperti gelaran tetrikal dan suara puisi sebagai reaksi balik atas seme menanya kekuasaan,” Tegasnya.

Warna merahnya akan tetap menyala, dan darah ideologinya mengalir di setiap nadi untuk membangun komitmen, cinta, dan harapan dan semangat berkarya, mencipta dan memimpin.

Ia mengharapkan, menyongsong hajatan besar ini, dalam refleksi tersimpan banyak harapan dan impian yang belum banyak terwujud.

Tanggung jawab Marhaenis sejati adalah terus bekerja dengan pikiran, hati, dan jiwa yang ikhlas, serta tak lupa bagaimana ia terus belajar untuk menyiapkan bekal di masa depan.

Ketika momentum, peluang, kesiapan bertemu dalam satu titik maka menjadi sesuatu yang tak bisa kita lewatkan.

Mari kita sambut moment besar ini dengan nuansa kekeluargaan, sebagai upaya bersama merawat ingatan, menolak lupa atas rasa cinta kepada GMNI dan Ibu pertiwi, cinta yang terus hidup.

“Menyalakan harapan adalah tanda bahwa kita memiliki prospek masa depan. Sekali lagi, 1 Dekade GMNI Kendari bukanlah agenda euforia semata, melainkan momen mengambil hikmah dari perjalanan panjang perjuangan,” Bebernya.

Saswal Ukba juga selalu Ketua DPC GMNI Kendari periode 2020-2022 menitip sebuah pesan agar kepemimpinan yang progresif dan revolusioner, mengisi pos-pos kritis di berbagai sektor dan melakukan gebrakan intelektual, terobosan program, dan sesuatu yang berdampak pada perubahan kongkret harus terus di lakukan.

Orientasi dan tujuan GMNI Kendari harus terukur, jelas, tepat sasaran, dan berdampak nyata. Ujian independensi akan selalu ada. Godaan akan muncul seperti ombak yang menyeret kita pada pusaran kepentingan praktis.

Pelajaran berharga bagi kita adalah kecerdasan dalam membaca peta politik dan sosial, kemampuan menjaga stamina kader, serta kematangan dalam mengelola konflik kepentingan.

GMNI perlu menyegarkan kembali wawasan kemahasiswaan sebagai organisasi berbasis intelektual muda, di mana idealisme pemuda menjadi pilar penyangga jati diri bangsa.

“Marilah kita tetap bersatu dan berjuang. Setiap insan Marhaenis, sebagai corong dan laboratorium kader, harus memaksimalkan sumber daya dan potensi yang ada dari setiap insan Marhaenis serta penguatan ideologi, mentalitas, dan kapasitas untuk berkompetisi di dalam kampus. Tantangan ke depan semakin besar,” Tegasnya.

Kita dituntut untuk selalu aktual, kritis, dan terus mengasah kemampuan sebagai Marhaenis sejati yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan di masa depan.

Terakhir Senior GMNI Kendari, Sarinah Fitra, mengungkapkan dengan semangat ideologis, GMNI bukan milik sekelompok orang. Ia milik rakyat. Rakyat yang selalu ia perjuangankan,petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota dan lainnya yang menjadi orientasi utama.

“Selama rakyat masih tertindas, GMNI tak boleh diam. Ia harus menjadi lokomotif gerakan dan peka terhadap isu-isu strategis yang menyangkut persoalan rakyat. Sentral gerakannya mesti di bangun di kampus, sebab corong konsolidasi dan mobilisasi gerakan,” Tegasnya.

GMNI berada di titik krusial nan strategis. Jalan satu-satunya adalah kembali ke akarnya, jalan perjuangan rakyat, panggilan sejarah, dan tugas ideologi.

GMNI mampu menjawab arah zaman: membantu petani mempertahankan tanahnya, bersama buruh menuntut keadilan kerja di era fleksibilitas tenaga kerja, mendampingi mahasiswa miskin yang rentan dikeluarkan karena tunggakan UKT, mengadvokasi hak-hak masyarakat adat yang direpresi oleh kekuasaan oligarki dan kebijakan pembangunan eksploitatif.

GMNI bisa menjadi sentral gerakan untuk perubahan
ke depan, selain dari internalisasi perbaikan tatanan struktur dan transformasi agar gerak perbaikan organisasi lebih baik mesti juga menjadi pelopor, menyatukan elemen dan eksponen gerakan.

Ke depan, semua kader bisa terus memastikan kerja organisasi berjalan secara baik dan sistematis, mengawal kebijakan pemerintah, dan memperbaiki kualitas kaderisasi. Langkah demi langkah yang konkret, kita semakin percaya bahwa Marhaenis Kendari akan banyak yang mengisi ruang pengabdian di masa depan dan dengan itu menjadi pelopor, bukan penonton. Jadilah pelaku sejarah, jangan jadi penonton apalagi penikmat sejarah.

GMNI kini berusaha mentransformasi diri untuk tetap relevan dengan perjuangan kaum tertindas di era digital, dengan tetap memegang teguh ajaran Bung Karno.

Usai pembukaan Dies Natalis GMNI Kendari dan sesi diskusi yang di pandu langsung oleh Sarinah Putri, anggota dan kader sembari melakukan buka bersama sebagai bentuk rasa kerinduan, kebersamaan dan kekeluargaan.

Turut hadir senior-senior GMNI Kendari, Irfan Ido, Muh. Maulana Ali Syaputra senior GMNI Kendari yang juga anggota DPRD Kota Kendari, serta senior-senior lintas generasi yang turut menjadi bagian terpenting dari kegiatan tersebut serta Komisariat SE Kota Kendari, anggota dan kader turut berpartisipasi merefleksi hajatan besar tersebut.

Selamat Dies Natalis GMNI Kendari, 1 Dekade perjalanan yang panjang, 2015-2026. Tetaplah menjadi Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang.

Saya adalah GMNI, kamu adalah GMNI, dan apa pun yang terjadi pada GMNI adalah tanggung jawab kita semua. Warisi apinya, jangan abunya.(red/kabartime.com).

Example 728x250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *