MUNA BARAT, KABARTIME.COM – Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Veteriner (BBV) Maros melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Muna Barat (Mubar) yang berkaitan dengan pengembangan ayam petelur. Berdasarkan data Dinas Peternakan Kesehatan Hewan, populasi ayam petelur di Mubar saat ini mencapai 28.000 ekor.
Kepala BBV Maros, Drh. H. Agustia, MP, menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan mendukung program Bupati Muna Barat tentang pengembangan ayam petelur. Ia melihat populasi ayam petelur di Mubar sangat menjanjikan dan berkomitmen untuk mendampingi program tersebut sampai berhasil.
“Kami dari BBV Maros wajib hukumnya mendampingi dan dukung sampai berhasil,” ujarnya saat ditemui awak media di kantor Peternakan dan Kesehatan Hewan Mubar, Selasa (16/12/2025).
Pendampingan yang akan diberikan berfokus pada peningkatan kemampuan peternak, termasuk teknik budidaya, pengenalan penyakit, dan manajemen pakan yang baik dan efisien.
Salah satu kendala utama yang dihadapi peternak adalah ketersediaan pakan, namun Drh. Agustia menyatakan bahwa Mubar memiliki potensi bahan baku pakan melimpah, seperti jagung, dedak, dan limbah perikanan.
“Potensinya sudah ada. Tinggal bagaimana memanajemen agar menjadi pakan alternatif sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada pakan pabrikan,” jelasnya.
Terkait keinginan peternak untuk memiliki pabrik pakan di Mubar, Drh. Agustia menjelaskan bahwa hal tersebut akan dilakukan secara bertahap, mulai dari produksi skala kecil, menengah, hingga besar yang diharapkan akan menarik minat investor.
“Investor pasti akan melirik karena ini potensi bisnis ayamnya banyak dan memerlukan pakan,” tegasnya.
Secara keseluruhan, BBV Maros menilai potensi ayam petelur di Mubar sangat menjanjikan, didukung lokasi yang cocok, antusiasme masyarakat, dan pasar yang jelas yaitu dapur MBG.
Sementara itu, Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, menyambut baik kunjungan dan pendampingan ini. Ia memaparkan bahwa program ayam petelur di Mubar sudah cukup berhasil, dengan produksi telur mencapai 14 ribu hingga 15 ribu biji per hari.
“Hasil produksi ini sudah sangat luar biasa,” ungkapnya.
Namun, Bupati menyatakan kekhawatiran utamanya terkait keberlanjutan program akibat masalah ketersediaan pakan.
“Kita tidak boleh ketergantungan pakan pabrik. Harus ada inovasi baru dengan pakan dari industri rumahan,” jelasnya.
Ia berkomitmen untuk mendorong pakan alternatif mulai tahun 2026 dan menekankan pentingnya kolaborasi dengan balai kementerian perikanan dan pertanian, mengingat pasokan pakan saat ini masih berasal dari Sulawesi Selatan.
“Saya sudah melakukan komunikasi dengan BBV untuk melakukan audiensi dengan Dirjen Peternakan guna menyampaikan perkembangan dan kendala, dengan harapan mendapat perhatian khusus dari pusat, ujarnya.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, La Samaruddin menyampaikan bahwa program Ayam Petelur di Kabupaten Muna Barat merupakan implementasi dari visi misi Bupati La Ode Darwin dan Wakil Bupati Ali Basa, selama masa kampanye yang lalu.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Muna Barat (Mubar) terus menggenjot sektor peternakan dengan menyalurkan sebanyak 28.000 ekor bibit ayam petelur kepada 43 kelompok tani yang tersebar di berbagai wilayah.
La Samaruddin, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan kelompok, menciptakan lapangan kerja, mendukung ketahanan pangan lokal, dan meningkatkan ketersediaan protein hewani seperti telur.
“Secara khusus bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kelompok tani,” ujar La Samaruddin.
La Samaruddin menekankan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya berupa bibit, tetapi juga disertai dengan dukungan logistik krusial.
“Bantuan ini bukan hanya bibit tetapi disertai pakan selama kurang lebih dua bulan. Dalam kurun waktu dua bulan itu, bibit tersebut diproyeksikan sudah bisa produksi. Nanti setelah produksi, kelompok sudah tidak dibantu atau sudah mandiri,” jelasnya.
Menariknya, program yang digulirkan melalui APBD Reguler tahun 2025 ini telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Plt. Kadis Peternakan Mubar melaporkan bahwa persentase produksi ayam petelur dari bibit yang disalurkan telah mencapai 76,5 persen lebih. Bahkan, sejumlah kandang mencatatkan hasil yang melampaui target.
“Kalau di atas 80 persen itu lebih dari 10 kandang. Bahkan beberapa kandang itu sudah mencapai di atas 90 persen hasil produksinya. Salah satunya itu Kelompok Tani Muda, Desa Madampi, Kecamatan Lawa. Mereka sudah mencapai 94 persen dari jumlah 1.500 ekor,” ungkap La Samaruddin.
Penyaluran Bertahap dan Kondisi Pakan Aman
La Samaruddin menambahkan, penyaluran total 20.000 bibit tersebut dilakukan dalam dua tahap, masing-masing 10.000 bibit. Saat ini, seluruh kelompok tani penerima sudah dapat beroperasi secara mandiri.
“Semua kandang sudah mandiri. Awalnya kita berikan bantuan bibit dan pakan selama tiga bulan (fase awal). Peran Peternakan sekarang hanya mengawasi dan mengedukasi sehingga produksi telur tidak menurun. Ini ada beberapa kandang yang kita awasi tapi khusus pengembangan,” terangnya.
Meskipun masalah ketersediaan pakan kerap menjadi momok bagi peternak, Plt. Kadis Peternakan memastikan bahwa pasokan pakan di Mubar masih stabil.
“Alhamdulillah berdasarkan pantauan kami masih aman. Ada ketersediaan pakan, dan kita selalu memberi informasi, kalau kosong pakan kita arahkan di tempat yang tersedia. Kebetulan yang sering komunikasi dengan kita itu dari Pokpan,” pungkasnya. (ADV) (red/kabartime.com).















