KENDARI,KABARTIME.COM– Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Tenggara (Sultra), Herry Asiku, membantah pernyataan yang dilontarkan oleh DPP Golkar, La Ode Saiful Akbar, terkait kegagalan partai dalam mendongkrak perolehan kursi di DPRD Provinsi Sultra pada Pileg 2024.
Menurut Herry Asiku, pernyataan Saiful Akbar hanya melihat dari satu sisi. Ia mengakui adanya penurunan perolehan kursi di DPRD Provinsi, namun ia menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kegagalan.
“Politik di Sultra pada Pileg 2024 kemarin cukup sengit. Golkar diapit oleh partai penguasa, yakni Nasdem dan PDI Perjuangan. Nasdem karena gubernurnya dari Nasdem, PDI Perjuangan karena wakil gubernurnya dari PDI Perjuangan,” ujar Herry Asiku.
Meski demikian, Herry Asiku mengklaim bahwa Golkar cukup berhasil karena masih bisa bertahan di posisi pimpinan Wakil Ketua DPRD Provinsi Sultra.
Kendati demikian, Heri Asiku juga mengakui bahwa menurunnya prolehan Kursi di DPRD Provinsi Sultra tersebut akibat kekalahan Golkar di Dapil Konsel- Bombana, di mana perolehan kursi Golkar berkurang karena bupatinya berasal dari Partai Nasdem.
“Kita hanya kalah di Dapil Konsel-Bombana. Harusnya Dapil Konsel-Bombana itu tiga kursi, tapi berkurang menjadi satu karena bupatinya dari Partai Nasdem,” jelasnya.
Herry Asiku juga menyampaikan bahwa di masa kepemimpinannya partai Golkar cukup berhasil mendongkrak perolehan kursi di DPRD Kabupaten Kota. Ia menyebutkan bahwa jumlah pimpinan DPRD dari Golkar bertambah dari 7 menjadi 11 orang.
“Apanya yang gagal? Bupati yang tadinya hanya satu menjadi tujuh sekarang. Jadi jangan melihat satu sisi, di DPRD Provinsi. Memang kita turun, tapi kita masih bertahan di 6 kursi,” tegasnya.
Herry Asiku juga menilai bahwa Golkar di Sultra lebih progresif dibandingkan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia mencontohkan penurunan perolehan kursi PAN dari sembilan menjadi tiga kursi.
“Kemarin kan Gubernur dari Nasdem, wakil gubernur dari PDI Perjuangan. Nah, Golkar ini tidak dalam partai penguasa di Sultra. Kita sangat berhasil jika dibandingkan dengan Partai PAN, dari 9 kursi turun menjadi tiga kursi,” ujarnya.
Herry Asiku kemudian merinci sejumlah jabatan pimpinan DPRD yang berhasil diraih oleh kader Golkar di berbagai daerah, seperti Ketua DPRD di Konsel, Kota Kendari, Buton, dan Bau-Bau, serta Wakil Ketua DPRD di Buton Utara, Muna Barat, Konawe Utara, dan Buton Selatan.
“Apakah ini tidak bertambah? Dari 7 pimpinan menjadi 11 pimpinan di DPRD Kabupaten/Kota. Apakah itu bukan prestasi? Jadi tidak boleh melihat satu sisi saja,”Imbuhnya
Ketua DPD I Partai Golkar ini juga membantah pernyataan DPP Golkar, Saiful Akbar bahwa Ketua DPD I Golkar Sultra memanfaatkan Partai Golkar demi kepentingan Keluarga dan Kelompok.
Menurutnya pernyataan Saiful Akbar tidak berdasar, karena politik itu soal melihat peluang. Yang terpenting, mereka adalah orang-orang kita dan bekerja untuk membesarkan Golkar.
Herry Asiku menjelaskan bahwa dalam memilih kader, pihaknya tentu mengutamakan orang-orang yang dikenal dan memiliki komitmen terhadap partai.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada salahnya memilih kader dari kalangan relasi atau keluarga, asalkan mereka memiliki kemampuan dan kemauan untuk memajukan partai.
“Masa kita mau ambil orang yang tidak kita kenal? Kita kan tidak tahu latar belakangnya, jangan sampai dia malah menghancurkan Golkar. Biar dia saudara atau relasi, kalau memang bisa menaikkan suara Golkar, tetap kita ambil. Jadi, tidak ada yang salah dengan itu,” tegasnya.(red/kabartime.com).
















